Rabu, 09 Desember 2015

Selamat Malam, Kamu..

Siang sudah berlalu
Kamu masih dengan sibukmu..
Pernahkah sedikit kamu mau peduli,
atas siapa saja yang menantimu meluangkan waktu..

Saat kamu tak pernah tahu
Banyak rindu yang menjagamu
Banyak doa yang menyerta harimu;
"Semoga sibukmu disertai bahagia, semoga kamu selalu baik-baik saja."

Rindu serupa ibu yang menunggu depan pintu
Penuh cemas saat anaknya belum kembali..

Dua puluh empat jam..

Saatnya terpejam..

Maaf jika malam ini kamarmu sesak
Itu rinduku yang mengisi seisi kamarmu.

Selamat malam, kamu..

Jumat, 04 Desember 2015

Perihal Kamu dan.. Dia.

Semangkuk kesedihan sudah siap aku telan kala nanti kabar yang kudapat hari ini, perihal kamu. Perihal kamu yang kembali pada masa lalumu benar terjadi.
Mungkin akan lebih pahit dari obat-obat pemberian dokter yang akhir-akhir ini sedang ku konsumsi.

Sungguh, jika kabar itu benar, sakitku akan bertambah parah.
Maksudku, mungkin hatiku akan patah.
Entah akan patah menjadi berapa. Semoga tidak terlalu parah. Doakan saja.
Sungguh, jika kabar itu benar, aku takkan menyalahkan siapapun dan untuk alasan apapun.
Apa hakku menyalahkan sesuatu yang sudah atau belum terjadi?
Aku tak akan menyalahkanmu jika benar kau kembali pada masa lalumu. Aku juga takkan menyalahkan dia yang dulu pergi meninggalkan luka dihatimu dan tetiba-tiba dia kembali merengkuhmu.
Aku juga tidak menyalahkan diriku yang terus menerus merapal namamu. Mengejanya sebagai alasan bahagia dan meramunya sebagai obat setiap duka.

Kau tahu, hati, kita sendiri yang mengendalikan.
Dengan melibatkan Tuhan Sang Maha Pembolak-balik perasaan tentu saja.
Tuhan tahu pada siapa hati ini tertuju dan Tuhan tahu atas nama siapa doa-doaku menyatu.

Kau tahu, cinta tak pernah salah.

Jika cinta adalah kesalahan, maka mencintaimu adalah kesalahan yang tak perlu disalahkan.
Jika rindu adalah kebodohan, maka merindukanmu adalah kebodohan yang harus ditunjukkan.
Dan jika lupa adalah keharusan, maka melupakanmu tak akan menjadi keharusan yang harus aku lakukan.

Ah! Mengenai kabar itu, aku siap dengan segala ketidaksiapanku untuk kembali menata hati.

Perihal kamu dengannya..

Selamat berbahagia..

Doakan aku agar baik-baik saja.


04 Desember 2015, diluar hujan deras, ditambah geludug dan petir. Didalam kamar ada yang lebih deras dan pahit yang sangat getir.

Sabtu, 28 November 2015

Tiga Ratus Enam Puluh Lima

Aku ingat akhir bulan November satu tahun lalu.
Saat gerimis menitik halus namun rapat.
Aku tidak yakin betul, itu adalah awal saat perasaan ini muncul.
Yang kuingat, aku melihat sorot matanya yang hangat. 
Hari-hari berikutnya, selalu ada semangat yang menyertai pagi. Setiap hari.
Tak jelas atas dasar apa aku selalu senang melihatnya disana semenjak hari itu. Dan aku akan merasa seperti ada sesuatu yang hilang saat tak ku temukan dirinya disana.
Sejak saat itu, perasaanku rikuh setiap kali kita berpapasan. Untuk saling bertukar sapa atau hanya sekedar bertukar pandang.
Sejak saat itu, ku ketahui bahwa aku telah jatuh.

Dia istimewa. Kukira.

Berawal dari kagum. Perasaan ini membesar menjadi... sesuatu yang tidak bisa kuungkapkan.
Lagipula, aku ragu kalaupun aku bisa menjelaskan apa yang sebenarnya aku rasakan.
Aku tahu, dihatinya sudah tercatat satu nama. Dan sepengetahuanku, itu bukan namaku.
Saat sejak itu, aku memilih seperti ini.
Untuk tidak memberitahumu.. 

Aku tidak mendekat, juga tidak menjauh.
Ku pahami segala kesibukannya.
Aku selalu berdoa agar selalu ada bahagia dalam sibuknya.

Maaf, perhatianku hanya sebatas doa. Aku belum bernyali untuk menunjukkan. Aku bukan pemberani dalam hal ini.
Maaf, hanya isyarat yang ku pertujukkan dengan segala semoga dia menyadari ada aku untuknya.
Maaf, aku membandel. Aku masih menunggunya.
Jika menunggunya adalah kesalahan, maka itu akan menjadi kesalahan terindah yang dilakukan manusia bodoh seperti.. aku.
Aku tidak peduli.

Ku-iya-kan, jika menunggu adalah hal paling menyebalkan dan paling membosankan.
Tapi apakah cinta mengenal rasa bosan?
Ah, aku keras kepala.
Maaf, aku sering kali merindukannya.
Berharap semesta mempertemukan aku dengannya.
Berharap waktu memberiku kesempatan untuk bisa melihatnya.
Namun, sekeras apapun rindu yang membuat tidak bisa tidur, saat semesta belum berkehendak untuk mempertemukan, tetap tak akan bertemu.

Ada yang terus ku yakini hingga detik ini; semesta sudah mempersiapkan pertemuan tak terduga untuk para perindu yang baik.

Merindulah dalam doa agar kau selalu merasa seperti memeluknya.
Dan.
Maaf, aku masih mencintainya hingga detik dimana aku sudah tak pernah melihatnya.

Tiga ratus enam puluh lima hari sejak hari gerimis itu.

29 November 2015. Ciledug gerimis.

Lima Larik Senja

Sore itu aku masih berada ditempat yang menghadirkan banyak cerita.
Tempat yang menghadiahiku bahagia sekaligus luka,
Di tempat itu, aku bertemu dengannya.
Awalnya biasa saja. Hingga pada akhirnya, aku melihat ada yang berbeda.
Dia istimewa dengan caranya.

Dia selalu disana setiap sore menyapa. Melakukan hal yang membuatnya hidup. Dia pernah berkata pada satu hari, kalau kesukaannya itu sudah menjadi bagian yang tidak bisa lepas dari dirinya.
Dari sorot matanya yang hangat, aku yakin dia bahagia dengan segala sibuknya.
Ah, dia istimewa dengan caranya.

Matahari sudah siap kembali. Menyebabkan semburat jingga menghiasi cakrawala.
Aku masih disana. Barangkali itu adalah sore terakhirku melihatnya.
Aku tidak tahu kapan semesta akan menghendakiku untuk melihatnya lagi setelah aku pergi dari tempat ini.
Semoga saja.
Aku merapal dalam hati.

Suara bola itu berdebum disana. Sedikit mengejutkan. Dan seperti menghantam.
Entah untuk alasan apa, aku merasa dadaku sesak seketika.
Aku meyakini, bahwa selepas ini, selepas aku beranjak dari tempat ini, akan ada banyak rindu yang siap menemani hari-hari panjang tanpa melihatmu.
Akan banyak pengharapan agar semesta mempertemukan. Akan banyak rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan.

Matahari sempurna tenggelam dan memaksaku untuk pulang.
Dia. Masih istimewa dengan caranya.
Dia. Adalah alasan satu tahun terakhirku untuk bertahan disana.
Dia. Seorang yang selalu ku ikat namanya dalam doa.
Aku pergi. Dari tempat ini.
Tapi aku tak pernah benar-benar pergi.
Ada separuh diriku di tempat ini.
Aku pergi. Tanpa sempat kukatakan; Aku mencintaimu.
Perlahan. Waktu membeku. Untuk waktu selanjutnya

Aku merindukanmu.

Ciledug, 28 November 2015

Kamis, 12 November 2015

Untuk Ayah

Yah, tidak ada lelaki sehebat dirimu di dunia ini.
Sekalipun kau orang biasa, namun dimata kami, ketiga anakmu, kau yang terbaik.
Ayah seorang kepala keluarga yang hebat.
Apalagi semenjak Ibu pergi meninggalkan kita semua.
Ayah berubah menjadi sosok bebeda.
Seorang ayah merangkap seorang ibu.
Aku yakin tak banyak yang bisa menjadi seperti itu.

Maafkan aku belum bisa menjadi anak perempuan yang baik untukmu.
Tapi kau tahu, aku sedang berusaha.
Aku ikuti semua katamu. Karena hanya itu yang bisa kulakukan.
Maafkan aku yang masih sering membandel dan sering membuatmu harus terisak dalam doa yang kau panjatkan setiap malam.
Maafkan aku.
Aku tidak tahu harus kubayar dengan apa semua pengorbananmu.

Dad, thank you for the loves that you gave for me.
Thank you for all the things yoi have done.
Thank you for everythings.
I love you so much!

Tuhan, bisakah Kau beri umur panjang untuk Ayahku?
Agar aku bisa melihatnya tersenyum bangga suatu saat nanti ketika aku menjadi orang yang berguna.
Aamiin..

Dalam hidupku, setiap hari adalah harimu, Ayah.
Selamat Hari Ayah.

Dari anak gadismu yang sedang berusaha membahagiakanmu.

Sabtu, 31 Oktober 2015

Masih Kamu

Selamat malam..
Aku yakin kamu sudah terlelap tidur dan berada di alam mimpimu saat aku menulis ini sekarang.
Setelah beberapa hari ini kesibukan menghantuimu setiap waktu.
Aku salut padamu yang sangat bisa menikmati waktu berlalu dengan serentetan jadwal yang harus kamu lalui setiap hari.
Tak pernah ada gurat keluh diwajahmu.
Sepadat apapun jadwalnya, kamu tetap menjalaninya dengan bahagia.
Aku selalu berdoa agar sibukmu selalu disertai bahagia dan kamu selalu baik-baik saja.

Kamu tahu?
Sampai detik aku menulis ini, aku masih menyukaimu.
Aku masih terkagum pada sosokmu yang belum pernah ku jumpai pada orang lain.

Saat menulis ini, aku sedang memikirkanmu. Sepenuhnya pikiran tentangmu berkumpul dalam otakku.
Entah apa maksudnya. Tapi untuk sekadar menyoal tentangmu, aku sudah tamat.
Aku sudah tamat untuk tidak mengingat semua tentangmu.
Usahaku untuk menghilangkanmu dari hati dan pikiranpun terasa sia-sia dan tak ada artinya.

Oh! Aku hampir lupa pada sesuatu yang semesta sudah berikan padaku dihari Kamis lalu.
Ya, aku melihatmu!
Walau hanya dalam hitungan beberapa detik, rasanya aku terlalu tidak tahu diri jika tidak berterima kasih pada semesta yang sudah berbaik hati.
"Terima kasih, semesta!"
Kamu tahu, saat itu rasanya aku adalah orang paling bahagia se-galaksi bima sakti.
Terserah bagaimana orang menilainya.
Aku bahagia bisa bertemu denganmu walau dalam hitungan detik.
Saat itu aku berharap bisa menggunakan mantra "Aresto Momentum" supaya bisa kuhentikan waktu agar aku bisa lebih lama melihatmu.
Agar rindu yang sudah ku tabung selama ini 'menghasilkan' saat terpecahkan.
Tapi lagi-lagi, aku tidak ingin menjadi kufur untuk tidak bersyukur atas pertemuan tak sengaja yang sudah Tuhan berikan.

Tak ada habis jika menyoal tentangmu.
Aku senang setiap kali siapapun bercerita tentangmu.
Itu seperti, aku mendapatkan sesuatu yang baru tentangmu.
Aku senang hanya dengan seperti itu.

Malam ini.
Detik sekarang.
Aku hanya ingin memberitahumu, bahwa aku rindu.
Satu pertanyaan yang belum terjawab oleh semesta; "Kapan aku bisa menikmati senyum dan tawamu (lagi)?".

Malam ini..
Setelah tulisan ini selesai ku tulis dengan segenap kerinduan yang ku tahan, aku nyatakan;
Semua masih tentangmu..

Cirebon, 31 Oktober 2015 dalam gelap kamar yang lampunya sengaja aku matikan.

Jumat, 16 Oktober 2015

Tuhan (masih) Ingin Bermesraan

Jujur saja, tanpa basa-basi, aku bingung dan terheran mengapa do'a-do'aku belum terjawab oleh-Mu, Tuhan?
Jujur saja, aku sempat berpikir Kau tak lagi menyayangiku.
Jujur saja, aku pernah berprasangka buruk terhadap-Mu, Tuhan.
Aku sempat tidak mengerti mengapa do'a-do'a yang setiap hari ku rapalkan belum juga Kau kabulkan.

Jujur saja, aku pernah iri melihat mereka yang selalu Engkau penuhi segala permintaannya sedangkan aku tidak.
Jujur saja, aku pernah merasa bahwa Kau tidak adil.

Maafkan aku, Tuhan.
Mungkin sifat negatif itu menjadi salah satu penyebab mengapa do'a-do'aku belum Kau ijabah.

Namun sekarang aku mengerti.
Aku mengerti mengapa Kau tidak cepat mengabulkan do'a-do'aku yang sudah tidak membumi.
Aku mengerti bahwa Kau senang melihatku duduk dan terkadang menangis seraya merapalkan do'a-doa dan segala harapanku yang aku harap bisa cepat Kau kabulkan.
Aku mengerti bahwa Kau ingin aku untuk tetap merayu-Mu.
Aku mengerti bahwa Kau masih ingin bermesraan dengan hamba-Mu ini, bukan?
Karena jika cepat Kau kabulkan, mungkin aku takkan lagi bermesraan dengan-Mu.
Apakah aku benar?
Tuhan, maafkan aku.
Akupun masih ingin bermesraan dengan-Mu.
Bersujud dan memohon apapun yang aku mau.
Kau ajarkan aku kesabaran.
Kau ajarkan aku untuk terus meminta hanya pada-Mu.
Maafkan aku yang selama ini masih berpikiran yang tak baik tentang-Mu.
Aku akan terus merapalkan do'a dan segala harap hanya pada-Mu, Ya Allah..

Minggu, 11 Oktober 2015

Tinta Senja


Takkan pernah terpikir lagi tentang cinta
Sampai akhirnya kau hadir menyapa
Meggoreskan tinta berwarna senja
Merona jingga..

Dalam doa
Aku berbincang dengan Sang Pencipta
Aku selalu meminta
Agar Tuhan mau menyatukan kita
Selama-lamanya
Bersatu dengan semesta.

Hani, 17 tahun, tapi sebentar lagi mau 18 tahun.

Jumat, 09 Oktober 2015

Distilasi Alkena

Source: http://wiranagara.id

Sebelumnya, ini bukan tulisan saya. Ini tulisan Mas Wira Satianagara yang saya suka dan sepertinya kamu harus baca.
Iya, kamu. Aku mencintaimu. Hahaha..
Belum ada ijin resmi, tapi semoga mas Wira mengijinkan tulisannya saya copy ke blog sederhana ini.
Satu hal yang perlu kalian waspadai saat membaca tulisan ini.
Siap-siap baper.
Mari mulai..
.
.
.
.
.

Pernah bahagia kita merekah indah tanpa sedikitpun gelisah, saat lantunan rindu adalah alasan setiap pertemuan, saat mencintaimu bukan hanya sekedar lamunan. Semurung mendung sederas hujan, mimpiku memuai hebat pada ketiadaan. Aku tak pernah menyesal  akan keputusanmu memilihnya, yang aku sesalkan adalah tiada sedetikpun kesempatan bagiku membuatmu bahagia..



Kesalahanku, menjadikanmu alasan segala rindu..


Waktu pun mengurai tetes hujan menjadi bulir-bulir kenangan. Ia menelusup tanpa permisi membasahi nurani. Merangkak naik menyusun kata yang dibicarakan oleh pelupuk, memaksa mata bekerja mengeluarkan kalimat penuh derita. Degub jantung menyatu detik, menyuarakan penyesalan yang runtuh menitik.

Bukan perih yang aku ratapi, tapi pengertian tak pernah kau beri. Sadarlah! Aku telah mencintaimu dengan terengah-engah, mencibir oksigen dengan menjadikanmu satu-satunya udara yang aku izinkan mengisi setiap rongga, menghempas darah dengan namamu yang mengalir membuat jantungku tetap berirama. Padamu aku jatuh hati, bahkan sebelum Tuhan merencanakan Adam dan Hawa diturunkan ke bumi.

Kesalahanku, tak pernah mencintai selain kamu..

Tingkat sepi paling mengerikan, adalah sepi dalam keramaian. Mengulik rasa secara primitif dan tak mengenali dunia telah jauh mengalami perubahan. Bagaimana mungkin aku menjauh jika hanya padamu keakuanku luluh? Bagaimana mungkin aku pergi jika bayanganmu masih saja menghiasi mimpi? Bagaimana mungkin aku berpindah bila hanya padamu hatiku bisa singgah?

Bagaimana mungkin?

Bagaimana..

Mungkin..

Kau memilih orang lain?

Detik yang berbaris hanya membuat pengharapan semakin miris. Kau tak bergeming, kau tak pernah menjawab dengan alasan caraku mendambamu terlampau bising. Otakku terus meneriakkan penyesalan sembari bertanya tentang kenapa, pada sikapmu yang terlalu membuat semesta menerka-nerka. Tangkupan tanganku masih saja menggenggam harap untukmu, namun keegoisanmu membuatnya kosong laksana harapan semu.

Kesalahanku, isi doaku tak pernah selain namamu..

Cinta tak selamanya tentang kepemilikan, tapi cinta adalah tentang keikhlasan. Segala rela aku coba tumpahkan, pada rajutan tinta yang menulis namaku dalam undangan pernikahan. Paling tidak aku pernah merasakan perihnya ditolak tanpa penjelasan. Paling tidak aku pernah menyadari sakitnya mendamba tanpa balas peduli. Paling tidak, aku akhirnya bisa melihat sosok terbaik yang akan mendampingimu, memakaikan cincin di jemarimu, mencium keningmu, dan bersanding bahagia berbagi senyuman denganmu.

Terimakasih atas segala rasa, pada hari itu aku pun turut mengucap bahagia.

Mencoba ikhlas

Walau air mata pasti mengucur deras

Kesalahanku; Adalah tak pernah merasa, bahwa untukku kau tak pernah punya cinta..

Kamis, 08 Oktober 2015

Emansipasi atau Penurunan Harga Diri?

Haloo selamat menjelang petang!
Gue cuma mau nulis sedikit hal yang penting gak penting sih. Tergantung lo yang baca ini penting atau gak menurut lo.

Oke, dari judulnya agak serem, ya?
Emang itu yang mau gue bahas kali ini.

Zaman sekarang kayaknya apa-apa serba dihubung-hubungkan dengan 'Emansipasi' ya?
Sampe-sampe setiap suka sama seseorangpun, gue sering diledek sama temen-temen gue; 'Udah, lah, sekarang kan jaman emansipasi wanita. Masa lo gak berani nyatain duluan kalau lo suka sama dia?'
Bagi gue, emansipasi bukan yang seperti itu.
Please deh, ya! Itu emansipasi atau penurunan harga diri?

Gue kadang gak ngerti sama cewek-cewek yang berani 'nembak' duluan.
Faktanya zaman sekarang banyak, lho, yang kayak gitu.
Perlu bukti?
Disekitar gue banyak kok!
Gue males, ah, nyebutinnya. Takut dikira gimana-gimana. Padahal emang gimana? Bingung kan lo sama tulisan gue? Sama sebenernya juga gue bingung.

Oke, gak perlu kisah orang lain yang gue angkat ke tulisan ini. Gue akan angkat kisah pedih gue tentang hal ini.

Jadi, gue pernah pdkt-an sama seorang cowok. Lo tau kita pdkt-an berapa lama?
Dua tahun, bro, sis! Amazing, kan? Nggak, ya? Biasa aja, ya? Okelah~

Gue suka sama dia, dia juga kayaknya suka sama gue.
Tapi berhubung gue bukan tipe cewek 'pemberani', jadi gue putuskan untuk diam.
Gue pikir, buat apa gue nyatain duluan.
Atas dasar malu dan jelas gengsi, lah. Hahaha..
Yang kurang ajarnya pun, si doi gak pernah nyatain perasaannya ke gue.
Selama dua tahun, kita jalan aja. Ngalir aja gitu.
Sampai tiba-tiba...
*jreng jreeeeeng* *musik tegang* *oke gue lebay*
Ada seorang cewek —yang setelah satu minggu gue tau, dia adalah adik kelas si doi disekolahnya— yang ngedeketin si doi.
Gue gak tau kalau si doi lagi deket sama cewek itu.
Ya, gue gak pernah larang si doi mau deket sama siapa aja.
Kalau gue larang-larang, emang gue punya hak? Kan nggak.
Semua berjalan biasa saja. Seperti biasanya.
Sampe akhirnya gue dapet kabar buruk. Kalau si doi jadian sama cewek tadi.
Lo bayangin gimana sakitnya gue.
Lo bisa bayangin, lah.
Jujur gue sakit waktu itu.
Gue ngerasa, gue yang udah deket sama si doi lama gitu, ya, dua tahun lebih, kalah sama yang deketin si doi hanya dalam waktu singkat.
Tersiar kabar bahwa ternyata si cewek, lah, yang nembak si doi.
Hal itu gue tau dari mantan si doi yang satu sekolah sama dia.

Gue mikir waktu itu kalau si doi jahat banget sama gue.
Gue kira si doi punya perasaan yang sama ke gue. Ternyata? Dia lebih milih jadi sama cewek itu.
Entahlah, mungkin gue yang kepedean atau si doi yang ngebet pacaran. Jadi dia nerima si cewek gitu aja.

Tapi serius, gue heran apa yang ada dikepala cewek-cewek seperti itu.

Well, sekarang gue tanya.
Buat cewek-cewek yang berani nyosor duluan atas dasar 'emansipasi' —katanya—, apa yang memotivasi lo untuk bisa berani nembak si doi duluan?
Dan buat cowok-cowok, jujur sama gue, sebenernya lo lebih suka cewek yang simpen perasaannya rapih-rapih atau cewek-cewek yang berani nyosor lo?

Gue bukannya menjelek-jelekkan, gue cuma penasaran. Kenapa kalian, para cewek-cewek berani dengan gampang nyatain bahkan nembak cowok buat jadi pacar lo?
Bukankah akan lebih baik lo simpan rapih-rapih perasaan lo, sampe Tuhan kasih yang terbaik buat lo.
Saran gue, jangan pernah terburu-buru dalam mengartikan perasaan.
Kecuali kalau lo tipe orang yang gak bisa tahan dengan status 'Single'.


Percayalah, cinta selalu pantas untuk kita yang mau memantaskan diri pada segala kepantasan yang bahkan dianggap tak pantas. — Wira Nagara.

Okelah, itu sedikit pengalaman gue tentang sosor-menyosor.
Semoga setelah ini gak ada lagi korban sosor-menyosor.
Aamiin..

Maaf jika tulisan ini menyinggung. Karena sejujurnya gue gak ada niat untuk menyinggung. Gue cuma pengin nulis apa yang pengin gue tulis.
Samlekuuuuuum✋✋

PS: Gue udah move on seutuhnya dan sepenuhnya dari si doi. Sekarang gue sedang mengagumi seorang pria yang kapan-kapan akan gue ceritakan.

Rabu, 07 Oktober 2015

Entah..


hani nurbaiti's profile photo
5 days ago
Entah sejak kapan aku mulai menaruh hati padamu.
Aku tak ingat.
Yang aku ingat aku tak pernah bisa melepas bayangmu setiap kali aku penat.
Aku tak bisa menghilangkanmu dari dalam benak yang pekat.

Semua tentangmu selalu jadi nomor satu.
Apapun itu.
Semua hal tengtangmu tak ada yang tak menarik bagiku.

Kau yang selama ini selalu menjadi bunga tidur dan tak pernah mau kabur.

Sekali lagi. Aku mencintaimu dengan seluruh kesungguhanku.

Ada sesuatu yang kurasa setiap kali kau tak ada.
Awalnya aku tak tahu itu apa.
Rasanya sesak didada.
Setelah ku bertanya, aku tahu apa yang kurasa setiap kali kau tak ada.
Setiap kali kau tak bisa kutangkap dengan mata.

Oh, hay! Itu rindu namanya.
Terdengar seperti nama anak perempuan yang manis.

Baiklah, aku sudah mengetahui perasaan macam apa yang selalu membuatku gelisah bercampur resah setiap harinya.

Rindu.

Sekarang ajarkan aku bagaimana cara menyudahinya.
Karena harus kau tahu, ini berat. Sangat berat.
Menahan rasa ingin bertemu denganmu yang saat ini sudah pergi dengan masalalu.

Sudah kuputuskan..
Aku tetap disini. Mencintaimu dan terus merindukanmu. Sampai waktu yang belum ditentukan.

Kopi Keju


Ini ceritaku, tentangmu, bersama secangkir kopi keju.

Aku sudah berhasil memecahkan teka-teki dirimu.
Sabar kucari dan akhirnya aku mengetahui.
Itu adalah sebuah inisial yang membuatku kesal. Karena itu bukan inisial namaku.

Haha jelas itu bukan inisial namamu, bodoh!

Tak henti mencari hingga akhirnya terbukti.
Ada pahit yang kukecap kala aku berhasil memecahkan teka-teki yang berhasil membuatku kalap.
Ada perih yang kurasa kala aku tahu siapa seorang yang beruntung bisa menjadi alasan kamu untuk bahagia.
Ada sedih yang sangat lirih dan membuatku berjalan semakin tertatih.

Aku masih bersama kopiku. Aku lupa apa kopi yang ku pesan tadi.
Aku merasa kopiku lebih pahit malam ini.

Kalut.
Hatiku berselimut.
Bukan yang berbahan sutra, melainkan duri-duri luka berbahaya.

Salut.
Kau sempurna membuat malamku berkabut.
Riuh rendah suara tepuk tangan itu menggema untukmu. Untukmu yang berhasil membuatku kembali merasakan pilu.

Ini salahku.
Aku yang terlalu ingin tahu.
Hingga akhirnya membungkam mulutku. Membisu.

Aku kehabisan kata untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa...

Ada seseorang yang berhasil membuatmu bahagia dan mengharuskanku untuk tiada.

Bersama tegukan terakhir kopi pahitku, aku memutuskan untuk membisu jika ada yang berbicara tentangmu.

Senja Terakhir

"Senja hari ini berbeda" kataku.
Kau masih terdiam duduk dengan bola basket disampingmu.
Menatap ke arah langit barat yang mulai menyemburatkan cahaya jingganya.
Aku menatapmu.
Aku masih tidak percaya, bahwa aku bisa menikmati senja bersamamu. Bersama orang yang selama ini ku rindu.
Terima kasih, Tuhan. Kau sudah mendatangkan hari ini untukku.

Kau masih terdiam.
Matahari sudah mulai tenggelam.
Aku menikmati dengan segenap perasaan yang terdalam.

Sungguh, aku tak ingin senja segera berakhir sore ini.
Karena aku tak pernah tahu, setelah ini, apakah aku masih bisa menikmati senja bersamamu?
Atau setidaknya, apakah setelah ini, aku masih bisa bertemu denganmu?
Aku tak tahu.
Aku tak mau.
Aku tak mau senja cepat berlalu.
Tapi aku juga tak bisa menghentikan waktu.
Aku ingin terus bersamamu.
Melihatmu sedekat ini.
Dekat. Lekat.

Namun waktu tetaplah waktu.
Ia harus tetap melaju.
Senja akhirnya berlalu.

Kau bangkit dari dudukmu dan membawa bola basket yang sedari tadi disampingmu.

"Sudah waktunya pulang." Katamu,

Aku bangkit dari dudukku.
Ku anggukkan sedikit kepalaku sebagai isyarat meng-iya-kan.

Aku berjalan dibelakangmu.
Aku hanya bisa melihat punggungmu yang tersinari cahaya lampu-lampu kota.
Tapi perlahan, aku mulai kehilangan punggungmu.
Kau mulai tak terlihat dikeramaian kota ini.
Aku kehilanganmu..

Setelah hari itu berlalu. Aku sudah tak tahu bagaimana kabarmu.
Tak ada semilir angin yang menghembuskannya.
Tak ada kicau nuri yang membisikkannya.
Tak ada suara apapun yang dapat ku dengar tentangmu.

Senja-senja selanjutnya ku nikmati seorang diri. Sama seperti sebelum waktu itu.
Aku menerka-nerka, jika kau kembali pada masa lalumu.
Pada seseorang yang membuatmu sulit untuk membuka lembaran baru.
Entahlah, aku tak tahu.
Kuharap itu tak benar.

Aku mulai meramu rindu kembali.
Berharap-harap agar semesta mau mempertemukan kita lagi.
Aku merindu untuk waktu yang sangat lama.

Hingga akhirnya tersiar kabar, bahwa kau kembali padanya.
Kembali pada masa-lalu-mu.

Kau tebak sendiri apa yang terjadi padaku saat itu.
Kau pasti tahu apa yang kurasakan. Atau tidak?
Ah, kau pasti tak peduli.

Sejak saat itu, senjaku selalu pilu.
Terlalu getir dan tak dapat kuukir.
Sejak saat itu, senjaku tak lagi sama.
Selalu ada duka yang kurasa, tak ada senyum yang menghiasinya.
Sejak saat itu, senjaku kehilangan jingganya.
Seolah menandakan bahwa aku harus kehilanganmu selamanya.

Kau berjalan menuju bahagiamu dengannya. Dan aku mulai berjalan menuju baik-baik saja.

Aku benci mengatakan ini..
"Selamat berbahagia, kamu. Aku berdoa untuk kebahagiaanmu. Selalu. Terima kasih untuk senja terakhir waktu itu."

Dari aku yang mencintaimu..