Sabtu, 28 November 2015

Tiga Ratus Enam Puluh Lima

Aku ingat akhir bulan November satu tahun lalu.
Saat gerimis menitik halus namun rapat.
Aku tidak yakin betul, itu adalah awal saat perasaan ini muncul.
Yang kuingat, aku melihat sorot matanya yang hangat. 
Hari-hari berikutnya, selalu ada semangat yang menyertai pagi. Setiap hari.
Tak jelas atas dasar apa aku selalu senang melihatnya disana semenjak hari itu. Dan aku akan merasa seperti ada sesuatu yang hilang saat tak ku temukan dirinya disana.
Sejak saat itu, perasaanku rikuh setiap kali kita berpapasan. Untuk saling bertukar sapa atau hanya sekedar bertukar pandang.
Sejak saat itu, ku ketahui bahwa aku telah jatuh.

Dia istimewa. Kukira.

Berawal dari kagum. Perasaan ini membesar menjadi... sesuatu yang tidak bisa kuungkapkan.
Lagipula, aku ragu kalaupun aku bisa menjelaskan apa yang sebenarnya aku rasakan.
Aku tahu, dihatinya sudah tercatat satu nama. Dan sepengetahuanku, itu bukan namaku.
Saat sejak itu, aku memilih seperti ini.
Untuk tidak memberitahumu.. 

Aku tidak mendekat, juga tidak menjauh.
Ku pahami segala kesibukannya.
Aku selalu berdoa agar selalu ada bahagia dalam sibuknya.

Maaf, perhatianku hanya sebatas doa. Aku belum bernyali untuk menunjukkan. Aku bukan pemberani dalam hal ini.
Maaf, hanya isyarat yang ku pertujukkan dengan segala semoga dia menyadari ada aku untuknya.
Maaf, aku membandel. Aku masih menunggunya.
Jika menunggunya adalah kesalahan, maka itu akan menjadi kesalahan terindah yang dilakukan manusia bodoh seperti.. aku.
Aku tidak peduli.

Ku-iya-kan, jika menunggu adalah hal paling menyebalkan dan paling membosankan.
Tapi apakah cinta mengenal rasa bosan?
Ah, aku keras kepala.
Maaf, aku sering kali merindukannya.
Berharap semesta mempertemukan aku dengannya.
Berharap waktu memberiku kesempatan untuk bisa melihatnya.
Namun, sekeras apapun rindu yang membuat tidak bisa tidur, saat semesta belum berkehendak untuk mempertemukan, tetap tak akan bertemu.

Ada yang terus ku yakini hingga detik ini; semesta sudah mempersiapkan pertemuan tak terduga untuk para perindu yang baik.

Merindulah dalam doa agar kau selalu merasa seperti memeluknya.
Dan.
Maaf, aku masih mencintainya hingga detik dimana aku sudah tak pernah melihatnya.

Tiga ratus enam puluh lima hari sejak hari gerimis itu.

29 November 2015. Ciledug gerimis.

Lima Larik Senja

Sore itu aku masih berada ditempat yang menghadirkan banyak cerita.
Tempat yang menghadiahiku bahagia sekaligus luka,
Di tempat itu, aku bertemu dengannya.
Awalnya biasa saja. Hingga pada akhirnya, aku melihat ada yang berbeda.
Dia istimewa dengan caranya.

Dia selalu disana setiap sore menyapa. Melakukan hal yang membuatnya hidup. Dia pernah berkata pada satu hari, kalau kesukaannya itu sudah menjadi bagian yang tidak bisa lepas dari dirinya.
Dari sorot matanya yang hangat, aku yakin dia bahagia dengan segala sibuknya.
Ah, dia istimewa dengan caranya.

Matahari sudah siap kembali. Menyebabkan semburat jingga menghiasi cakrawala.
Aku masih disana. Barangkali itu adalah sore terakhirku melihatnya.
Aku tidak tahu kapan semesta akan menghendakiku untuk melihatnya lagi setelah aku pergi dari tempat ini.
Semoga saja.
Aku merapal dalam hati.

Suara bola itu berdebum disana. Sedikit mengejutkan. Dan seperti menghantam.
Entah untuk alasan apa, aku merasa dadaku sesak seketika.
Aku meyakini, bahwa selepas ini, selepas aku beranjak dari tempat ini, akan ada banyak rindu yang siap menemani hari-hari panjang tanpa melihatmu.
Akan banyak pengharapan agar semesta mempertemukan. Akan banyak rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan.

Matahari sempurna tenggelam dan memaksaku untuk pulang.
Dia. Masih istimewa dengan caranya.
Dia. Adalah alasan satu tahun terakhirku untuk bertahan disana.
Dia. Seorang yang selalu ku ikat namanya dalam doa.
Aku pergi. Dari tempat ini.
Tapi aku tak pernah benar-benar pergi.
Ada separuh diriku di tempat ini.
Aku pergi. Tanpa sempat kukatakan; Aku mencintaimu.
Perlahan. Waktu membeku. Untuk waktu selanjutnya

Aku merindukanmu.

Ciledug, 28 November 2015

Kamis, 12 November 2015

Untuk Ayah

Yah, tidak ada lelaki sehebat dirimu di dunia ini.
Sekalipun kau orang biasa, namun dimata kami, ketiga anakmu, kau yang terbaik.
Ayah seorang kepala keluarga yang hebat.
Apalagi semenjak Ibu pergi meninggalkan kita semua.
Ayah berubah menjadi sosok bebeda.
Seorang ayah merangkap seorang ibu.
Aku yakin tak banyak yang bisa menjadi seperti itu.

Maafkan aku belum bisa menjadi anak perempuan yang baik untukmu.
Tapi kau tahu, aku sedang berusaha.
Aku ikuti semua katamu. Karena hanya itu yang bisa kulakukan.
Maafkan aku yang masih sering membandel dan sering membuatmu harus terisak dalam doa yang kau panjatkan setiap malam.
Maafkan aku.
Aku tidak tahu harus kubayar dengan apa semua pengorbananmu.

Dad, thank you for the loves that you gave for me.
Thank you for all the things yoi have done.
Thank you for everythings.
I love you so much!

Tuhan, bisakah Kau beri umur panjang untuk Ayahku?
Agar aku bisa melihatnya tersenyum bangga suatu saat nanti ketika aku menjadi orang yang berguna.
Aamiin..

Dalam hidupku, setiap hari adalah harimu, Ayah.
Selamat Hari Ayah.

Dari anak gadismu yang sedang berusaha membahagiakanmu.