Rabu, 07 Oktober 2015

Kopi Keju


Ini ceritaku, tentangmu, bersama secangkir kopi keju.

Aku sudah berhasil memecahkan teka-teki dirimu.
Sabar kucari dan akhirnya aku mengetahui.
Itu adalah sebuah inisial yang membuatku kesal. Karena itu bukan inisial namaku.

Haha jelas itu bukan inisial namamu, bodoh!

Tak henti mencari hingga akhirnya terbukti.
Ada pahit yang kukecap kala aku berhasil memecahkan teka-teki yang berhasil membuatku kalap.
Ada perih yang kurasa kala aku tahu siapa seorang yang beruntung bisa menjadi alasan kamu untuk bahagia.
Ada sedih yang sangat lirih dan membuatku berjalan semakin tertatih.

Aku masih bersama kopiku. Aku lupa apa kopi yang ku pesan tadi.
Aku merasa kopiku lebih pahit malam ini.

Kalut.
Hatiku berselimut.
Bukan yang berbahan sutra, melainkan duri-duri luka berbahaya.

Salut.
Kau sempurna membuat malamku berkabut.
Riuh rendah suara tepuk tangan itu menggema untukmu. Untukmu yang berhasil membuatku kembali merasakan pilu.

Ini salahku.
Aku yang terlalu ingin tahu.
Hingga akhirnya membungkam mulutku. Membisu.

Aku kehabisan kata untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa...

Ada seseorang yang berhasil membuatmu bahagia dan mengharuskanku untuk tiada.

Bersama tegukan terakhir kopi pahitku, aku memutuskan untuk membisu jika ada yang berbicara tentangmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar