Aku ingat akhir bulan November satu tahun lalu.
Saat gerimis menitik halus namun rapat.
Aku tidak yakin betul, itu adalah awal saat perasaan ini muncul.
Yang kuingat, aku melihat sorot matanya yang hangat.
Hari-hari berikutnya, selalu ada semangat yang menyertai pagi. Setiap hari.
Tak jelas atas dasar apa aku selalu senang melihatnya disana semenjak hari itu. Dan aku akan merasa seperti ada sesuatu yang hilang saat tak ku temukan dirinya disana.
Sejak saat itu, perasaanku rikuh setiap kali kita berpapasan. Untuk saling bertukar sapa atau hanya sekedar bertukar pandang.
Sejak saat itu, ku ketahui bahwa aku telah jatuh.
Dia istimewa. Kukira.
Berawal dari kagum. Perasaan ini membesar menjadi... sesuatu yang tidak bisa kuungkapkan.
Lagipula, aku ragu kalaupun aku bisa menjelaskan apa yang sebenarnya aku rasakan.
Aku tahu, dihatinya sudah tercatat satu nama. Dan sepengetahuanku, itu bukan namaku.
Saat sejak itu, aku memilih seperti ini.
Untuk tidak memberitahumu..
Aku tidak mendekat, juga tidak menjauh.
Ku pahami segala kesibukannya.
Aku selalu berdoa agar selalu ada bahagia dalam sibuknya.
Maaf, perhatianku hanya sebatas doa. Aku belum bernyali untuk menunjukkan. Aku bukan pemberani dalam hal ini.
Maaf, hanya isyarat yang ku pertujukkan dengan segala semoga dia menyadari ada aku untuknya.
Maaf, aku membandel. Aku masih menunggunya.
Jika menunggunya adalah kesalahan, maka itu akan menjadi kesalahan terindah yang dilakukan manusia bodoh seperti.. aku.
Aku tidak peduli.
Ku-iya-kan, jika menunggu adalah hal paling menyebalkan dan paling membosankan.
Tapi apakah cinta mengenal rasa bosan?
Ah, aku keras kepala.
Maaf, aku sering kali merindukannya.
Berharap semesta mempertemukan aku dengannya.
Berharap waktu memberiku kesempatan untuk bisa melihatnya.
Namun, sekeras apapun rindu yang membuat tidak bisa tidur, saat semesta belum berkehendak untuk mempertemukan, tetap tak akan bertemu.
Ada yang terus ku yakini hingga detik ini; semesta sudah mempersiapkan pertemuan tak terduga untuk para perindu yang baik.
Merindulah dalam doa agar kau selalu merasa seperti memeluknya.
Dan.
Maaf, aku masih mencintainya hingga detik dimana aku sudah tak pernah melihatnya.
Tiga ratus enam puluh lima hari sejak hari gerimis itu.
29 November 2015. Ciledug gerimis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar