Sore itu aku masih berada ditempat yang menghadirkan banyak cerita.
Tempat yang menghadiahiku bahagia sekaligus luka,
Di tempat itu, aku bertemu dengannya.
Awalnya biasa saja. Hingga pada akhirnya, aku melihat ada yang berbeda.
Dia istimewa dengan caranya.
Dia selalu disana setiap sore menyapa. Melakukan hal yang membuatnya hidup. Dia pernah berkata pada satu hari, kalau kesukaannya itu sudah menjadi bagian yang tidak bisa lepas dari dirinya.
Dari sorot matanya yang hangat, aku yakin dia bahagia dengan segala sibuknya.
Ah, dia istimewa dengan caranya.
Matahari sudah siap kembali. Menyebabkan semburat jingga menghiasi cakrawala.
Aku masih disana. Barangkali itu adalah sore terakhirku melihatnya.
Aku tidak tahu kapan semesta akan menghendakiku untuk melihatnya lagi setelah aku pergi dari tempat ini.
Semoga saja.
Aku merapal dalam hati.
Suara bola itu berdebum disana. Sedikit mengejutkan. Dan seperti menghantam.
Entah untuk alasan apa, aku merasa dadaku sesak seketika.
Aku meyakini, bahwa selepas ini, selepas aku beranjak dari tempat ini, akan ada banyak rindu yang siap menemani hari-hari panjang tanpa melihatmu.
Akan banyak pengharapan agar semesta mempertemukan. Akan banyak rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan.
Matahari sempurna tenggelam dan memaksaku untuk pulang.
Dia. Masih istimewa dengan caranya.
Dia. Adalah alasan satu tahun terakhirku untuk bertahan disana.
Dia. Seorang yang selalu ku ikat namanya dalam doa.
Aku pergi. Dari tempat ini.
Tapi aku tak pernah benar-benar pergi.
Ada separuh diriku di tempat ini.
Aku pergi. Tanpa sempat kukatakan; Aku mencintaimu.
Perlahan. Waktu membeku. Untuk waktu selanjutnya
Aku merindukanmu.
Ciledug, 28 November 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar